Never Ending Spirit

Sudah hampir 1 bulan nih, aku gag nge-blog. Kali ini aku mau cerita tentang penglaman ter-cool dr kegiatanku menjadi seorang jurnalis di LPM PROFESI.
Di setiap tahunnya, LPM PROFESI membuat edisi khusus Ospek Universitas dan Ospek Fakultas yaitu GELEGAR. Dari 4 hari peliputan Ospek universitas (2 hari) dan Ospek Fakultas (2 hari), di hari ke 2 Ospek Universitaslah gue temukan sebuah pengalaman yang gag pernah gue temuin sebelumnya, yaitu semangat pantang menyerah hingga titik penghabisan.
Begini kisahnya,
Pada hari itu, kami (staf LPM Profesi) benar – benar susah mencari topik yang pantas untuk diangkat pada buletin Gelegar kami yang berimbas pada keterlambatan masuknya tulisan – tulisan kami ke dapur Redaksi yang di pegang oleh Pemred (Pemimpin Redaksi), mas Bagus. Sempat sesekali aku masuk ke kantor cuma buat iseng – iseng aja. Disana kulihat raut wajah Pemred yang seolah – olah terbakar karena harus kerja keras mengedit tulisan – tulisan kami sambil berkejaran dengan waktu. Setelah dia selesai dengan tugasnya, giliran si Jeki sang Layouters yang harus banting tulang. Singkat cerita, hingga waktu menunjukkan pukul 5.00 p.m, master Gelegar belum selesai di cetak gara – gara Printer si Neno kehabisan mangsi. Padahal acara Ospek berakhir jam 5.30 p.m. Hanya sebagian yang telah berhasil dan langsung dibawa lari anak – anak buat di cetak. Dan master yang belum jadi itu akhirnya di bawa si Jeki buat edit serta di cetak sekalian dicetak.
Atas perintah pak PU, gue ngikutin si Jeki. Hingga tiba di suatu tempat FotoCopy deket BangJo (Traffict Light) deket kampus, si Jeki langsung saja masuk kesana dan sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya dengan muka yang serius bercampur dengan agak ketakutan. Ternyata tidak hanya muka si Jeki yang terlihat seperti itu, anak – anak yang lain yang turut mendampingi Jeki seperti Ishe, Tika, Ani, Neno dan Syarif juga mengalami syndrom yang sama (mungkin gue juga demikian). Hingga akhirnya Gelegar selesai dicetak plus dilempit – lempit dengan tergesa – gesa. Lalu langsung saja kami bawa Gelegar ke kampus. Setibanya di kampus, acara Ospek Universitas kelar. Walaupun belum dievaluasi, gelegar terpaksa kami edarkan ke maba dan miba.
Dan saat evaluasi tiba, Pemred selaku inspektur evaluasi marah – marah kepada kami. Dia takut sekali jika Gelegar tidak terbit dan dia juga mengkritik kinerja kami yang kurang kritis mencari berita. Meskipun demikian, gue tetap senang, karena Gelegar dapat terbit dan gue dapat suatu pembelajaran yang baru yaitu “Never Ending Spirit” yang ditunjukkan oleh keluarga keduaku.
gilang dan LPM Profesi

Iklan

One thought on “Never Ending Spirit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s