Terbesit untuk Menyudahi

Sungguh terkejut rasanya ketika mendengar dari bibir empunya jagad bahwa gue dijebloskan di bui ad, sebuah bui yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan. Karena di dalam situ lo hanya bisa melongo melihat orang – orang yang dipusingkan. Terlebih lingkaran peremeh yang memandang rendah cipta orang lain dan pencuap-cuap dibaluti dengan gaya yang unik namun sangat norak dapat membuat gue gila di dalamnya. Tidak cukup rasanya jika hanya dua hal. Yah, maka ditambah lagi yang ketiga yaitu kemiskinan kepala di dalam bui. Sungguh hal ini membuat gue gag tahu lagi mendapatkan sebuah payung kecil dari hujan api ini.
Sempat empunya jagad menanyakan kebersediaan gue. Tentu saja negatif jawabku. Namun dengan jurus pamungkas empunya jagad dapat menganggukan kepala meskipun seratus ribu persen hatiku menggeleng.
Sungguh sebuah mimpi buruk berada di dalam bui ini yang ditemani dengan kepala – kepala itu. Tak pernah terbayang apalagi terencanakan. Padahal sangat mengharapkan berada di dalam kamar yang sesuai dengan potensi. Meskipun pada awalnya gagal memasuki kamar itu namun tak berhenti berharap hingga menunggu kesempatan kedua. Tapi sayang, kesempatan kedua ini yang mengubur semua harapan dan mematikan langkah. Hingga akhirnya terbesit untuk menyudahi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s