Cara Menghilangkan Rasa Kantuk Saat Kuliah

Setelah kurang lebih 1 setengah tahun duduk di bangku kuliah, akhirnya aku dapat menyimpulkan beberapa cara jitu untuk menghilangkan rasa kantuk yang sering dialami setiap mahasiswa pada saat menjalani kuliah diatas jam satu siang. Pada dasarnya cara – cara ini biasa kita lakukan setip hari. Oleh karena itu pastilah akan mudah untuk dijalankan tanpa kesukaran dalam mengaplikasikannya. Berikut beberapa hal yang harus dilakukan sebelum masuk kelas :

  • Makan Siang. Dengan makan siang, energi yang telah habis dipakai dari pagi hingga siang dapat diisi kembali.
  • Minum miniman yang manis (yang hangat dianjurkan). Gula mengadung glukosa. Kemudian glukosa tersebut akan dirubah menjadi energi. (aku tidak tahu persisnya. Soalnya aku tidak begitu tahu Biologi. Tapi intinya sudah benar kog.)
  • Cuci Muka (Berwudhu dilanjutkan dengan Sholat Duhur bagi yang muslim). Cuci muka atau berwudhu dapat menyegarkan pandangan dan pikiran. Apalagi cuci muka dengan menggunakan sabun.

Itu yang perlu dilakukan sebelum masuk kelas. Apabila sudah masuk kelas namun rasa kantuk masih datang kembali, berikut cara – cara untuk mengatasinya :

  • Minta ijin ke Dosen untuk cuci muka
  • Benarkan posisi duduk anda ke posisi duduk yang ideal dengan kedua telapak kaki menginjak ke lantai, punggung lurus dan kepala tegak. Lalu remas – remas kedua tepak tangan sembil menghirup udara secara perlahan (mengatur pernapasan).

Demikian tips untuk menghilangkan rasa kantuk. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Emas Di Dalam Nikotin

Emas Di Dalam Nikotin

Oleh Wanda Hamilton

Tanggal penerbitan: Juli 13 2001

“Nikotin membantu pencernaan, asam urat, sakit gigi, ia juga menghangatkan hal-hal yang dingin, mendinginkan keringat, memberikan makan pada mereka yang kelaparan, menyegarkan jiwa, membersihkan lambung, membunuh parasit; sari dari daun berwarna hijau yang memulihkan luka berwarna hijau walaupun beracun; pemanis bagi berbagai macam penyakit; asap bagi mereka yang menderita penyakit paru-paru, batuk, distillations of rheum, dan segala penyakit yang disebabkan oleh suhu udara yang dingin dan lembab; bagus di saat badan merasa dingin dan kelaparan; membantu pencernaan setelah makan.”

John Hosselyn tentang penggunaan tembakau, 1667 (dikutip di “C.A. Welager, Magic Medicines of the Indians, Signet, NY: 1974)

”Nikotin adalah sebuah bahan kimia yang luar biasa.”

Jack Henningfield, 1998 (dikutip di “Smoking Aside, Nicotine Remains an Amazing Chemical,” Scott Shane, The Seattle Times, 1/11/98, p. A10). Henningfield adalah seoang ahli kimia di John Hopkins dan juga mantan ilmuan di National Institute of Drug Abuse, dan juga seorang penasehat untuk SmithKline Beecham.

Tembakau telah dipakai oleh penduduk asli Amerika jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Setelah bangsa Eropa mulai menduduki Dunia Baru (the New World), mereka juga menggunakannya untuk mengobati berbagai macam keluhan dan penyakit fisik. Hal ini terus berlanjut hingga abad ke 20.

Akan tetapi, seiringan dengan menguatnya gerakan anti-tembakau di tahun 1980, tembakau dan nikotin yang terkadundung di dalamnya mulai dikritik oleh para petugas kesehatan umum. Pada tahun 1988, untuk pertama kalinya Laporan Kesehatan Umum A.S (U.S Surgeon General’s report) menyatakan bahwa nikotin merupakan sebuah zat adiktif yang membelenggu para perokok dengan rokok mereka. Pernyataan ini bukan saja menjadi senjata bagi gerakan anti-tembakau, tapi juga bagi para pengacara yang ingin meraup uang dalam jumlah yang besar dari para produsen rokok.

Para ahli kimia dan ilmuan yang menyelidiki efek physiologis dari nikotin sejak tahun 1950 an, mulai melihat bahwa nikotin sebenarnya dapat digunakan sebagai terapi baik untuk membantu berhenti merokok maupun untuk mengobati berbagai penyakit lainnya. Ketertarikan mereka pada nikotin semakin meningkat setelah adanya penemuan-penemuan baru tentang bahan kimia ini.

Sebuah pencarian informasi “time-specific” melalui penampungan data milik PubMed, Perpustakaan Obat-obatan Nasional (National Library of Medicine) menunjukkan adanya peningkatan pola ketertarikan ilmiah pada nikotin. Antara 1963 (tahun penerbitan perdana index PubMed)dan 1970, sudah ada 1.092 artikel tentang nikotin yang terdaftar; antara 1971 dan 1980, ada 2.346 artikel terdafatar; antara 1981 dan 1990, 3.771 artikel terdaftar; dan antara 1991 dan 2000, 6.919 artikel terdaftar. Dengan kata lain, dalam kurun waktu tiga puluh tahun, penerbitan riset yang melibatkan nikotin bertambah hingga lebih dari enam kali lipat.

Industri farmasi sudah beberapa waktu ini melihat potensi keuntungan yang dapat dihasilkan dari pengembangan obat-obat untuk berhenti merokok yang berbasis nikotin. Pada tahun 1962, para ilmuan Pharmacia mulai mengembangkan alat-alat penggunaan nikotin, dan di 1971, mereka berhasil menyempurnakan produk permen karet yang mengandung nikotin. Produk ini kemudian dipasarkan oleh SmithKline Beecham dengan nama Nicorette. Bersamaan dengan tumbuhnya gerakan anti-tembakau, perusahaan farmasi lainnya mulai tertarik pada potensi yang dapat dihaslkan dari produk-produk untuk berhenti merokok. Saat seorang peneliti, Jed Rose mengembangkan nikotin transdermal tempel pada awal 1980 an, industri farmasi mulai membawa produk ini ke pasar dengan cepat.

Perusahaan obat-obatan tidak saja tertarik pada penggunaan sistem pemakain nikotin sebagai alat membantu berhenti merokok, tapi juga dalam berbagai macam aplikasi farmakologis lainnya.

Seperti yang dikatakan Jed Rose, “ketertarikan pada bidang nikotin telah berkembang dengan pesat. Ada ledakan dalam jumlah penemuan-penemuan dalam segala tingkat,”(“A Cigarette Chemical Packed with Helpful Effects?”/”Bahan Kimia Rokok Yang Memiliki Dampak Menguntungkan?” John Schartz, The Washington Post, 11/9/98, p. A10).

Nikotin: Obat Ajaib

“Pentingnya keamanan nikotin, terutama keamanan jangka panjangnya, tidak saja berhubungan dengan perannya dalam proses berhenti merokok, tapi juga dengan potensinya dalam menjalankan peran sebagai pemulihan dari berbagai kondisi klinis.”

Alexander Glassman, M.D., Book Review of Nicotine Safety and Toxicity, Ed. Leh Neal L. Benowitz, NY, Oxford Univ. Press, 1998, dalam The New England Journal of Medicine, 2/18/99

Beberapa pengaplikasian nikotin yang telah dilakukan secara farmakologis adalah: meringankan rasa sakit,meringankan rasa cemas dan depresi; meningkatkan daya konsentrasi dan performa bagi penderita attention deficit hyperactivity disorder; meringankan beberapa simptom schizophrenia akut; meringankan beberapa simptom Tourette’s syndrome; meringankan beberapa simptom Parkinson’s disease; dan meringankan beberapa simptom Alzheimer’s disease.

Riset modern dan canggih men unjukkan adanya pengaplikasian nikotin yang lebih jauh lagi:

* “Studi ini menunjukkan bahwa nikotin dapat menstimulasi pemulihan rusak otak dan hasil-hasilnya dikaitkan dengan pendiskusian mekanisme syaraf dan potensi pengaplikasian lainnya.” (Brown RW, Gonzales CL, Whishaw IQ, Kolb B, “Nicotine improvement of Morris water task performance after fimbria-fornix lesion is blocked by mecamylamine,” Behav Brain Research, Mar 15, 2001.)
* “Riset ini juga mfelibatkan studi terhadap hewan, dan menunjukkan bahwa nikotin adalah bahan yang dapat menumbuhkan saluran darah yang lebih banyak di arteri-arteri tersumbat dibandingkan dengan faktor pertumbuhan lainnya. Bahan ini juga dapat digunakan dalam perawatan lemah jantung dan anggota tubuh lainnnya yang mengalami kekurangan sirkulasi darah. Hal ini memungkinkan dilakukannya prosedur-prosedur non operasi by-pass. “(Company Press Release, “Research Indicating That Nicotine Holds Potential for Non-Surgical By-Pass Procedures Honored by the American College of Cardiology,” 3/17/00)
* Suatu saat nanti, nikotine mungkinakan menjadi suatu alternatif dalam menangani tuberculosis yang akut… ‘bahan ini menghentikan pertumbuhan tuberculosis saat uji coba laboratorium, bahkan saat hanya sedikit yang dipakai,’ ujar Saleh Naser, seorang profesor microbiologi dan biologi moleculer di UCF…Naser mengatakan bahwa nikotin bekerja lebih baik dibandingkan 10 bahan lainnya yang diuji coba.” (“Shocker: ‘Villain’ nicotine slays TB/ Mengejutkan: Nikotin ‘Sang Penjahat’ Membantai TBC,” Robyn Suriano, Orlando Sentinel, 5/22/01).
* “Sebagai tambahan, nikotin dapat memberikan efek neuroprotektif (perlindungan syaraf) dengan cara mengurangi AA berlebihan pada metabolisme nNOS. Data-data ini dapat dipakai dalam terapi trauma akut pada tulang punggung. (Toberek M, Garrido R, Malecki A, Kaiser S, et al, “Nicotine Attenuates Arachidonic Acid-Induced Overexpression of Nitric Oxide synthase in Cultured Spinal Cord Neurons,” Experimental Neurology, 161(2), Feb 2000)
* Menurut sebuah penelitian baru, nikotin dapat mengurangi kejang-kejang dan gejala lainnya pada colitis, sebuah penyakit usus yang sangat menyakitkan yang menyerang beribu-ribu orang di A.S dan berjuta-juta lainnya di seluruh dunia. Penelitian yang diterbitkan di the Annals of Internal Medicine (Obat Dalam Tahunan)(Mar 1, 1997) ini dapat mengarah pada sebuah perawatan yang lebih baik bagi sekitar 230.000 penderita uclerative colitis di A.S.” (AP, Mar 1, 1997).
* Ada kemungkinan nikotine dapat digunakan sebagai pencegahan Kaposi’s sarcoma klasik dengan infeksi virus KS herpes. (Goedert J, Vitale F, Lorenzo G, Romano N, National Cancer Institute, “Classical Kaposi’s Sarcoma With KS Herpes Virus Infection: Reduced Risk with Cigarette Smoking,” proceedings of the American Association for Cancer Research, vol 42, March 2001).
* Perawatan depresi klinis. “Ini berarti bahwa mungkin ada satu arena baru bagi obat-obatan antidepresant. Ada kemungkinan besar bahwa anda dapat membuat tiruan nikotin yang tidak memiliki komplikasi medis nikotin dan terbukti berguna dalam perawatan depresi medis.” Dr. Alexander Glassman, kepala farmakologi klinis di institute New York state Psychiatric, Columbia University (dikutip di “Kicking Habit Kicks Up Depression,” Neil Sherman, HealthScout (6/19/01).

Dengan adanya penelitian-penelitian sepertini ini, dan juga berbagai penelitian lainnya tentang aplikasi terapis dari nikotin, tidaklah sulit untuk mengerti mengapa industri obat-obatan tertarik pada bahan ini. Walaupun perusahan-perusahaan farmasi tidak dapat mempatenkan nikotin itu sendiri, mereka dapat mempatenkan peralatan pemakaian nikotin dan bahan-bahan terapis yang menggunakan nikotin sebagai bahan utamanya. Bahkan, mereka sudah berhasil melaksanakan sebagian dari target tersebut dengan cara mempatenkan peralatan pemakaian nikotin sebagai alat bantu berhenti merokok dan menerima persetujuan FDA atas efisiensi dan keamanan mereka. Industri farmasi pasti akan sangat senang apabila perusahaan-perusahaan tembakau dan “peralatan penggunaan nikotin” mereka (mis.rokok) benar-benar dibasmi. Kemudian, Obat-Obatan Besar dapat menjadi penyedia tunggal nikotin untuk seluruh dunia.

Perusahaan Tembakau dan Nikotin Untuk Terapi

Walaupun Big Drug (Obat-Obatan Besar) berusaha dengan keras untuk mengambil alih pengendalian nikotin dari tangan industri tembakau, beberapa dari perusahaan tembakau ini berusaha melawan dengan cara membangun perusahaan farmasi milik mereka sendiri.

Pada tahun 1997 R J Reynolds membentuk Targacept, Inc., sebuah divisi farmasi yang berkonsentrasi dalam pengembangan “bahan-bahan” untuk merawat berbagai kelainan seperti Alzhemer’s, Parkinson’s, depresi, rasa nyeri, radang usus, Tourette’s Syndrome, attention deficit disorder, dan schizophrenia. Penderita-penderita kelainan tersebut menunjukkan adanya respons terhada perawatan yang menggunakan nikotin. Pada Agustus 24, 2000, RJR mengumumkan bahwa ia telah mendirikan Targacept setelah mengumpulkan $ 30.4 juta bersama investor utama, EuclidSR dan beberapa investor lainya. RJR akan memiliki 43% perusahaan baru ini, yang berarti ada “lebih dari 60 paten yang diterbitkan dan aplikasi-aplikasi yang masih tertunda. Di samping itu, ada beberapa ratus bahan lainnya yang berpotensi menyembuhkan penyakit-penyakit,” (PR Newswire, company press release 8/25/2000).

Pada Februari 8, 1999, Rhone-Poulenc Rorer, sebuah perusahaan farmasi global, mengumumkan sebuah kerja sama dengan targacept untuk sebuah riset koloboratif, kesepakatan pengembangan dan kemorsil… untuk mengembangkan obat-obatan baru untuk mengobati Alzheimer’s dan Parkinson’s disease” (Company Press Release, 2/9/99)

Japan Tobacco, perusahaan tembakau ketiga terbesar di dunia saat ini, juga memiliki perusahaan farmasi. Pada Oct. 26, 1997 Johnson & Johnson, pemasar Nicotrol, mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani sebuah kesepakatan dengan Japan Tobacco untuk menerima hak pengembangan beberapa bahan untuk penyembuhan rasa nyeri dan iritasi. J&J mengakhiri kesepakatan ini di bulan Juli 2000, tapi Japan Tobacco mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan percobaan-percobaan pada obat ini di jepang dan mempertimbangkan pilihan-pilihan lain untuk pengembangan dan pemasarannya di luar negeri.

Pada Mei 2002, Brown & Williamson , sebuah divisi British American Tobacco, mengumumkan terbitnya Ariva, sebuah permen mint yang mengandung nikotin dalam jumlah yang sama dengan yang dikandung sebatang rokok. B&W mengklaim bahwa permen tersebut tidak memiliki kegunaan terapis, tapi bertujuan untuk digunakan oleh para perokok yang sedang menghadiri acara-acara dimana mereka tidak diperkenankan merokok.

Pada bulan Mei 2001, perusahaan besar tembakau kunyah dan tembakau hisap Swedish Match mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan permen karet nikotin yang akan dipasarkan di Eropa dalam tahun ini. Sama seperti permen mint diatas, permen karet ini juga tidak memiliki kegunaan terapis. Swedish Match mengatakan bahwa permen ini hanya sekedar sebagai alternatif permen kunyah lain.

Nikotin memang adalah obat ajaib. Ia dapat dipakai sebagai pertisida dan beracun jika dipakai dalam jumlah dan kekuatan yang cukup besar, tapi juga dapat menyembuhkan dan membuat tubuh dan jiwa merasa nyaman. Sumber natural nikotin ini dipuja suku Indian sebagai hadiah dari para Dewa. Sekarang tampaknya banyak perusahaan memperebutkan nikotin emas sama seperti saat negara-negara Eropa memperebutkan emas Dunia Baru (New World) beberapa abad lalu.