My Ride

Setelah satu setengah bulan menunggu, akhirnya datang juga motor yang gue tunggu – tunggu, Honda Vario CBS Techno

Iklan

Pom Bensin SHELL lebih baik dari pada PERTAMINA

shell

Gue terheran – heran saat om gue mengisi bahan bakar mobilnya di pom bensin Shell bukan Pertamina, karena menurut gue lebih baik menggunakan produk dalam negeri seperti Pertamina dari pada mengunakan Shell yang merupakan produk asing (Amerika Serikat). Namun setelah berada di dasana, ternyata memang benar Shell lebih baik dari pada Pertamina.

Pertama, Harga Shell lebih murah dari pada Pertamina. Shell Super yang setara dengan Pertamax Pertamina dihargai 5800 IDR per liter. Lebih hemat 450 IDR dibandingkan Pertamax Pertamina yang harganya 6250 IDR per liter.

Kedua, pelayanan Shell lebih baik dibandingkan Peramina. Memang system 3S (senyum, salam, sapa) diterapkan dikeduanya, namun Shell memberikan pelayanan khusus seprti pembersihan kaca mobil yang tidak dimiliki setiap Pom Bensin Pertamina.

Ketiga, keamanan Shell lebih baik. Ketika anda mengisi bensin di Pom Shell, anda wajib mematikan mesin mobil anda, kalau tidak tentu saja tidak akan dilayani. Berbeda dengan Pertamina, walaupun sudah ada larangan menyalakan mesin, namun tetap saja masih banyak pelanggan yang menghidupkan mesin ketika pengisian BBM dan tidak mendapat teguran dari petugas Pom.

Keempat, pemberian bonus dari Shell. Ketika anda mengisi BBM senilai 50.000 IDR, anda akan mendapatkan sekaleng Coca – Cola seharga 6000 IDR. Jauh berbeda dengan Pertamina yang tidak memberikan bonus apapun pada pelanggannya.

Kesimpulannya, Pertamina masih jauh dibawah Shell. Coba bayangkan jika Pom Bensin Shell boleh membuka cabangnya di luar Jabodetabek, pasti Pertamina akan mengalami kebangkrutan yang cukup siknifikan. Oleh karena itu, saya harap agar Pertamina dapat memberbaiki bahkan menambah dari beberapa hal yang kurang dari Pertamina. Walaubagaimanapun juga, saya lebih cinta produk dalam negeri dibandingkan asing. Go….Pertamina !!!!!!

Sepanjang Pekalongan Jogja

monumen1 tugu1

17 Juni 2009 ku ukur jalanan sepanjang Pekalongan Jogja. Terbentang 180 km dengan alur pekalongan – batang – weleri (kendal) – parakan (temanggung) – temanggung – secang (magelang) – magelang – sleman – jogja. Dengan Honda Supra yang begitu liarnya hingga 120 km/jam. Andai saja tak ada yang menghalang, pasti kudapat lebih. Sempat terhenti ketika sang pengatur memberhantikanku dan menannyai beberapa surat penting di tengah hijaunya lautan pepohonan. Namun semuanya teuntas tanpa ditambah beberapa masalah. Hingga kuinjak tanah Mataram yang kutempuh 4 jam dari asal.